"Sabar ya, sayang...
Keadaannya lagi sulit...
Jangan cape ya, temanin aku terus...
Dukung aku terus..."
Walau kadang aku masih tak terbiasa, aku akan coba untuk mengerti...
Mengerti segala keadaan...
It's struggle time... Okay, I'll bear that in mind...
We're partner, kita hadapin bersama...
Susahmu, susahku juga,
dan apa yang kamu perjuangkan sekarang,
akan menjadi perjuangan yang aku doakan keberhasilannya.
Banyak yang bisa menawarkan kelegaan,
sebuah kenikmatan yang
sejatinya fana dan menggiurkan.
Tapi kamu,
memilih untuk memulai segala sesuatu
dari peluh dan keringat...
Mumpung masih muda, begitu katamu,
sudah puas aku bermain-main sembari mengecap habis bangku kuliah itu.
Sabar, sayang,
niscaya kedepannya tinggal kita nikmati hasilnya...
Dan aku memilih untuk bersamamu.
Menyokongmu.
Kamu, yang membangkang,
menolak ajaran penatua-penatua
yang mengatakan orang sukes
adalah orang yang memiliki penghasilan tetap tiap bulan,
bekerja seperti kuda yang dikusir orang.
Kuda-kuda,
seperti adanya aku.
Kamu memilih untuk memulai baru,
menjadi kusir untuk dirimu sendiri,
dan aku memilih untuk bersamamu,
mencoba mengerti apa yang ada di kepalamu, visi dan harapanmu.
Maafkan jika sesekali
aku lupa dan manja ketika aku mulai lelah tertekan oleh keadaan...
Rengkuh aku dan ajak aku melangkah lagi...
Biar aku ingat kembali mengapa
aku memilih untuk menjalani ini semua bersamamu...
Usia kita masih hijau, kawan...
Dan selama aku masih mampu,
biarlah kita berbagi,
mimpimu itu mimpiku juga...
Biarlah apa yang kau harapkan,
akan menjadi apa yang kupanjatkan
ketika mengatup mata dan tangan dalam doa.
Tuhan dengar...,
sebagaimana pun jauhnya nya kita,
Dia dengar...
Seyogyanya ketika Dia turun tangan dalam usahamu, sayang,
masih kau temukan aku dalam rengkuhmu.
Aminkan ya habibie...